16
Apr
09

Representasi Perempuan dalam Media

Sebelum membicarakan representasi perempuan dalam media maka perlu dipahami terlebih dahulu pengertian perempuan. Pengertian perempuan adalah salah satu dari dua jenis kelamin manusia; satunya lagi adalah lelaki atau pria. Berbeda dari wanita, istilah “perempuan” dapat merujuk kepada orang yang telah dewasa maupun yang masih anak-anak.
Berdasarkan pengertian tersebut perempuan tentunya memiliki posisi terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, subordinasi perempuan masih saja terjadi. Jadi, representasi perempuan merupakan gambaran (perwakilan) perempuan. Sedangkan representasi perempuan dalam media adalah bagaimana media massa menggambarkan (dari perwakilan orang / kelompok) perempuan kepada khalayak.
Representasi perempuan dalam media khususnya televisi menawarkan model-model peran yang mendorong ketundukan perempuan pada dunia laki-laki, dan yang mengecilkan arti penghargaan diri dan sikap proaktif perempuan. Dengan sendirinya representasi ini berkaitan dengan gender.
Mengutip buku “Eksplorasi Gender di Ranah Jurnalisme dan Hiburan” dengan penyunting Ashadi Siregar dkk, mengatakan ada tiga relasi discourse yang digunakan dalam melihat komodifikasi perempuan di dalam media hiburan pada tingkat “tekstual”. Pertama, keberadaan perempuan di dalam media massa dikaitkan dengan ‘inter-relasinya’ dengan keberadaan laki-laki yang secara bersama-sama menentukan posisi dan eksistensi masing-masing. Kedua, analisis tersebut memperhatikan berbagai pengaruh budaya popular global terhadap media lokal. Ketiga, dengan melihat berbagai pengaruh tersebut, diharapkan dapat dilihat berbagai perubahan relasi gender di dalam media hiburan.
Gender berasal dari kata bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Berdasarkan jenis kelaminnya maka manusia diciptakan dari dua jenis kelamin diantaranya laki-laki dan perempuan.
Namun, berkaitan dengan teks televisi, gender diartikan sebagai sikap ideologis memasukkan perempuan dengan menaruh perhatian pada hubungan antara khlayak dan teks, cara perempuan membaca teks, dan pada teks yang ‘menarik’ bagi perempuan.
Gagasan tentang gender perempuan yang diperoleh melalui televisi benar-benar sebuah konstruksi, dan bukanlah hal mustahil mengidentifikasi aspek-aspek spesifik dan konstruksi ini. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah :

  1. Penampilan fisik
    Penampilan fisik itu penting untuk mengedepankan tentang keperempuanan atau femininitas. Semua itu merupakan unsur-unsur esensial yang digunakan untuk menggiring asumsi khalayak perihal posisi perempuan.Unsur-unsur dalam penamilan fisik itu ‘memberi identitas’ bagi performers untuk mengandaikan sudut pandang perempuan, untuk bertutur kata sebagaimana perempuan. Wajah atau paras sangat terkait dengan proyeksi seksualitas, yang dalam beberapa sisi tidak berlaku pada laki-laki. Televisi merupakan bagian dari sekian banyak aparatus budaya yang mensosialisasi perempuan muda agar memprioritaskan penampilan dan mengukur identitas diri dan harga diri mereka berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi. Televisi sendiri memiliki serangkaian program yang secara eksplisit dan secara implisit menegaskan bahwa penampilan adalah segalanya. Kebanyakan dari mereka memproyeksikan gagasan simplistic bahwa penampilan fisik mengandung makna nilai sosial dan penghargaan diri personal, tanpa pernah menjelaskan bagaimana hubungan itu dibuat atau bagaimana hubungan itu berproses dalam dunia nyata.
  2. Perilaku
    Perilaku merupakan aspek konstruksi. Beberapa perilaku direpresentasikan sebagai lebih sesuai untuk disandang perempuan ketimbang perilaku lainnya. Perilaku-perilaku tersebut sangat terkait dengan :
    a. peran – perempuan setia ketika setia melakukan aktivitas domestic atau mengurus pekerjaan.
    b. Gagasan tentang femininitas – perempuan yang mengekspresikan emosi.
    c. Definisi yang terkait dengan laki-laki – perilaku memosisikan perempuan di belakang dalam serombongan laki-laki.
  3. Pembacaan emosional
    Dalam berbagai representasinya perempuan dianggap jalang, penuh gairah, cemburu, ingin membalas dendam, penuh kasih sayang dan seterusnya. Beragam warna emosional dianggap berasal dari perempuan, disandangkan sebagai stereotip dan dikaitkan dengan gagasan simplistic bahwa perempuan, semata-mata bersifat emosional.
  4. Nilai-nilai
    Nilai-nilai adalah bagian dari konstruk perempuan, namun senantiasa ada dalam konteks posisi perempuan secara sosial dan ideologis. Sebagai contoh keibuan, sifat melindungi, keluarga. Namun bisa dikatakan bahwa sangat tepat mengkonstruksi nilai-nilai tersebut ‘milik’ perempuan, jika hal ini mempertegas peran domestic mereka, kekuatan ekonomis mereka, dan secara umum menguatkan posisi subordinate mereka dalam hierarki.
  5. Peran dalam pekerjaan
    Peran ini sebagai konstruk perempuan. Beberapa pekerjaan dipandang sebagai pekerjaan perempuan-juru rawat, guru sekolah dasar, misalnya didominasi oleh perempuan. Konstruksi sosial keperempuanan terjerat dalam konstruk media.
  6. Domain / wilayah perempuan
    Tempat yang tampaknya ‘menjadi milik’ perempuan. Lagi-lagi, tanpa mengabaikan aspek selektif dan dilebih-lebihkan dari konstruksi media yang steretipikal, bukan mustahil kiranya bergerak diantara realitas media dan realitas sosial dalam pencarian domain. Rumah dilihat sebagai wilayah perempuan, begitu juga kamar mandi, dapur, kamar tidur (tetapi bukan Garasi atau ruang kerja.

Banyak materi televisi yang dimanfaatkan oleh kaum perempuan untuk mencari kesenangan dan mengidentifikasi diri. Namun akan menjadi sebuah perkara apabila kesenangan itu terkotori karena materi televisi, misalnya, memperkuat gagasan bahwa wilayah perempuan didominasi oleh rumah, atau gagasan tentang perempuan metropolis. Ada juga argumen bahwa berbagai program yang secara eksplisit dibuat untuk perempuan tidak membantu posisi perempuan dalam masyarakat. Persisinya disebabkan karena program tersebut memberi perhatian pada perbedaan, bukan semata-mata menyediakan ‘materi netral’ yang secara kabetulan juga mudah diakses oleh kaum perempuan.

Daftar Pustaka

  1. Burton, Graeme. Membincangkan Televisi. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra, 2007.
  2. Naqiyah, Najlah. Otonomi Perempuan. Jawa Timur: Bayumedia, 2005.
  3. Siregar, Ashadi. Rondang Pasaribu, Ismay Prihastuti. Eds. Eksplorasi Gender Di Ranah Jurnalisme dan Hiburan. Yogyakarta: LP3Y, 2000.
  4. http://www.wikipedia.co. id / search / pengertian perempuan, 20 Februari 2008 .

0 Responses to “Representasi Perempuan dalam Media”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Apa Kata Nurani????

Kehidupan...???? Saat manusia mencoba menjadi manusia

Coba Lihat Juga….

https://fauzan3486.wordpress.com http://videografer.ning.com http://idecerita.blogspot.com http://detik.com http://kompas.com http://filmpendek.org http://marioteguh.asia http://politikana.com
April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: