17
Jun
10

Perbedaan i3, i5, dan i7

Intel telah merilis processor terbarunya yaitu Intel core i7, kemudian disusul i5 dan i3. Yang perlu diperhatikan adalah Intel tidak akal menggunakan lagi brand core 2 duo dan core 2 quad, sedangkan brand pentium dan celeron akal dipertahankan. Kemudian brand centrino mereka akan digunakan di produk mereka yang berbasis Wifi dan Wimax, jadi kita tidak akan lagi nemuin notebook dengan brand Intel Centrino.

Lalu apa perbedaan dari ketiga produk baru Intel tersebut? Intinya adalah core i3 ditujukan untuk Entry Level, core i5 untuk mid level, kalo core i7 untuk High Level. Kemudian ketiganya akal ditanam di dekstop maupun notebook. Selain itu, core i5 dan i7 mengadopsi fitur “Intel Turbo Mode Technology” dimana fitur ini akan mematikan core yang tidak dipakai ketika memproses aplikasi yang hanya membutuhkan single thread, ketika memproses aplikasi single thread, processor akan mengoverclock aliran thread data yang berjalan di atasnya sehingga pemprosesan aplikasi lebih cepat, sedangkan jika memproses aplikasi yang bukan single thread, core tersebut akan hidup kembali.

Berikut deskripsi lebih jelasnya mengenai ketiga produk ini:

INTEL CORE i7
Core i7 sendiri merupakan processor pertama dengan teknologi “Nehalem”. Nehalem menggunakan platform baru yang betul-betul berbeda dengan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah mengintegrasikan chipset MCH langsung di processor, bukan motherboard. Nehalem juga mengganti fungsi FSB menjadi QPI (Quick Path Interconnect) yang lebih revolusioner.

INTEL CORE i5
Jika Bloomfield adalah codename untuk Core i7 maka Lynnfield adalah codename untuk Core i5. Core i5 adalah seri value dari Core i7 yang akan berjalan di socket baru Intel yaitu socket LGA-1156. Tertarik begitu mendengar kata value ? Tepat ! Core i5 akan dipasarkan dengan harga sekitar US$186.
Kelebihan Core i5 ini adalah, ditanamkannya fungsi chipset Northbridge pada inti processor (dikenal dengan nama MCH pada Motherboard). Maka motherboard Core i5 yang akan menggunakan chipset Intel P55 (dikelas mainstream) ini akan terlihat lowong tanpa kehadiran chipset northbridge. Jika Core i7 menggunakan Triple Channel DDR 3, maka di Core i5 hanya menggunakan Dual Channel DDR 3. Penggunaan dayanya juga diturunkan menjadi 95 Watt. Chipset P55 ini mendukung Triple Graphic Cards (3x) dengan 1×16 PCI-E slot dan 2×8 PCI-E slot. Pada Core i5 cache tetap sama, yaitu 8 MB L3 cache.

Intel juga meluncurkan Clarksfield, yaitu Core i5 versi mobile yang ditujukan untuk notebook. Socket yang akan digunakan adalah mPGA-989 dan membutuhkan daya yang terbilang cukup kecil yaitu sebesar 45-55 Watt.

INTEL CORE i3
Intel Core i3 merupakan varian paling value dibandingkan dua saudaranya yang lain. Processor ini akan mengintegrasikan GPU (Graphics Processing Unit) alias Graphics On-board didalam processornya. Kemampuan grafisnya diklaim sama dengan Intel GMA pada chipset G45. Selain itu Core i3 nantinya menggunakan manufaktur hybrid, inti processor dengan 32nm, sedangkan memory controller/graphics menggunakan 45nm. Code produk Core i3 adalah “Arrandale”.

09
Jun
10

Riset Film Dokumenter

oleh Rhino Ariefiansyah

(Penulis Adalah, Production Supervisor Eagle Awards 2005-2008)

Pendahuluan: Membuat Film Dokumenter, Mencari Keteraturan dan Pola-pola atas Fenomena Sosial yang Ada di Sekitar Kita Lepas dari segala perdebatan mengenai definisinya, film dokumenter menurut saya adalah sebuah usaha untuk mencari pola-pola; keteraturan-keteraturan tentang fenomena yang ada di sekitar kita. Sebagai sebuah film, keteraturan-keteraturan atau pola-pola tersebut kemudian dirangkai menjadi urutan cerita dalam medium audio visual. Jika kita melihat ke sekeliling kita, banyak fenomena sosial yang ada dan bersifat acak, sebagai contoh dari kasus film “Kepala Sekolahku Pemulung” ada berbagai fakta yang sebelum film itu dibuat, seperti lepas satu sama lain; kemiskinan, guru yang berpenghasilan rendah, stigma tentang pemulung, kepala sekolah yang menjadi pemulung, istri yang sakit keras, rumah yang tidak layak huni, dsb. Tugas seorang pembuat film dokumenterlah untuk merangkai fakta-fakta acak tersebut menjadi sebuah urutan cerita dalam bahasa gambar dan suara. Mana yang lebih dulu dimunculkan? Kemiskinan, profil pemulung, profil kepala sekolah atau yang lainnya?

Lalu jika otoritas dalam penyusunan cerita yang berdasarkan realita tersebut ada pada pembuat film, apakah objektivitas dalam film dokumneter sama sekali tidak ada? Objektivitas dalam film dokumenter itu tetap ada tapi kita tidak dapat menganalogikannya dengan objektivitas yang ada pada ilmu eksakta bahwa 2+2=4. Walau bagaimana pun film dokumenter seperti didefinisikan oleh John Grierson adalah ‘creative treatment of reality’ dan kerja kreatif dalam ranah seni manapun sangat kental dengan nuansa personal: subjektivitas. Tapi jangan dulu terjebak untuk membuat film sesuka hati karena film dokumenter pada akhirnya akan berhadapan dengan pemirsa (audience) yang belum tentu memiliki subjektivitas yang sama dengan pembuat film, karena itu subjektivitas dalam dokumenter juga harus memperhatikan nilai-nilai universal tentang kemanusiaan, kegigihan perjuangan, cinta kasih dan sebagainya. Dengan kata lain subjektivitas dalam dokumenter harus dapat dipertanggungjawabkan, harus bisa diterima oleh logika orang kebanyakan, minimun oleh target audience yang ingin kita jangakau.

Untuk membantu pembuat film mencari ‘keteraturan’ (subjektivitasnya) diperlukan usaha sistematis untuk mengumpulkan data dan kemudian merangkainya. Sistematika itulah yang ingin saya coba jabarkan dalam tulisan ini.

Riset dalam Produksi Dokumenter

Pada sebuah pelatihan praproduksi dokumenter, Rhoda Gruer, tutor yang mengajar saya mengatakan bahwa ada tiga hal penting dalam sebuah produksi dokumenter yaitu: riset, riset, dan riset. Mengapa Rhoda Gruer begitu yakin tentang pentingnya peranan riset dalam produksi dokumenter, hingga dia mengucapkannya tiga kali? Kira-kira itu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di benak saya setelah saya selesai mengikuti kegiatan pelatihan. Kurang lebih lima tahun setelah saya mengikuti pelatihan itu, sedikit demi sedikit saya mulai memahami betapa riset itu memang sangat penting dalam setiap fase kerja dokumenter; tahap praproduksi, produksi dan pascaproduksi. Tulisan ini saya buat dengan maksud untuk berbagi pengalaman kepada pembaca tentang betapa pentingnnya riset dan pentingnya kesadaran pembuat film untuk mencari keteraturan-keteraturan dan sistematika berpikir dalam setiap tahapan produksi dokumenter.

Sebelum lebih jauh, saya akan mengawali tulisan ini dengan memberikan definisi dari riset itu sendiri. Berdasarkan kamus Oxford, riset (research) adalah the systematic investigation into and study of materials, sources, etc., in order to establish facts and reach new conclusions atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah sebuah investigasi dan studi sistematis atas materi, sumber data, dll untuk menetapkan fakta dan mencapai kesimpulan baru. Ada tiga hal yang saya tangkap dari definisi tersebut. Dengan kata lain saya menganggap bahwa riset adalah serangkaian:

1. Kegiatan sistematis.

2. Materi dan sumber data.

3. Fakta dan kesimpulan.

Ide Film: Wahyu Atau Asumsi Awal?

Riset dalam Tahapan Pencarian Ide Film Setiap film dokumenter berangkat dari ide. Pertanyaannya, apakah ide itu datang begitu saja, atau dari sebuah kegiatan sistematis? Perlukah kita membuat riset untuk mendapatkan ide? Berdasarkan pengalaman saya terlibat dalam pelatihan film dokumenter yang diselenggarakan oleh In-Docs, banyak peserta yang datang ke pelatihan dengan ide yang tidak spesifik, kebanyakan dari mereka datang dengan data-data yang masih mentah sangat terbuka untuk dipertanyakan dari berbagai aspek. Tidak jarang peserta pelatihan datang dengan ide besar seperti kemiskinan, kegigihan, perjungan, atau dengan tema bombastis seperti perjuangan masyarakat melawan kapitalisme. Apakah ide-ide itu salah? Tidak juga, namun ide yang masih mentah dan sangat terbuka bisa menyulitkan kita dalam tahapan-tahapan pembuatan film dokumenter berikutnya.

Ide-ide yang terlalu luas dan sulit untuk dijabarkan dalam film, muncul karena ide-ide tersebut tidak diolah, akibatnya ide tersebut hanya akan menjadi pisau tumpul yang sulit digunakan untuk memotong. Mengapa itu terjadi? Banyak pembuat film pemula menganggap bahwa ide itu seperti wahyu yang datang begitu saja. Padahal menurut saya ide itu merupakan sebuah asumsi awal atas sebuah gejala atau fenomena sosial atau alam yang merupakan hasil dari pengalaman dan atau pengamatan yang pernah dialami si pembuat film. Sebagai sebuah asumsi awal, ide film seharusnya ditajamkan lagi dengan melakukan serangkaian kegiatan pengamatan atau wawancara agar ide yang masih begitu luas menjadi lebih sempit dan lebih tajam. Ini penting untuk dilakukan karena dalam kebanyakan kasus, film dokumenter akan terkait dengan beberapa keterbatasan seperti durasi tayang ataupun masalah pendanaan.

Banyak pembuat film pemula menganggap bahwa riset itu adalah kegiatan yang rumit, karenanya mereka menghindari kegiatan ini. Padahal pada tahap munculnya ide sekalipun sudah merupakan sebuah hasil dari kumulasi pengalaman sehari-hari yang menjelma menjadi sebuah ide. Ide dalam kadar tertentu adalah asumsi awal atas sebuah pola, sebuah ketaraturan yang ingin kita sampaikan melalui film dokumenter. Dengan kata lain ide merupakan hasil riset yang bersifat sementara; hasil dari proses sistematis yang seringkali tidak disadari oleh pembuat film. Sebagai contoh: munculnya ide film ‘Suster Apung’ merupakan buah dari serangkaian pengamatan sang pembuat film selama berinteraksi dengan Ibu Rabiah yang kemudian menjadi tokoh dalam film tersebut. Saya yakin bahwa munculnya ide untuk membuat film tentang kegigihan seorang perawat di kepulauan terpencil itu tidak datang begitu saja, melainkan sebagai buah dari proses pengamatan dan interaksi yang berlangsung selama beberapa waktu.

Jadi berhentilah menunggu wahyu di kamar mandi dan mulailah merangkai berbagai fenomena yang ada di sekitar kita, carilah keteraturan, hubungan sebab akibat yang menghubungkan satu gejala dengan gejala lainnya. Sekali lagi ide bukanlah wahyu yang datang begitu saja, ide merupakan pemikiran yang muncul dari berbagai hal yang kita lihat langsung (dari hasil pengamatan dan wawancara) atau tidak langsung (dari bahan bacaan ataupun tontonan).

Walaupun tahap menentukan ide sering dianggap mudah, namun pada kenyataannya selama saya mengikuti berbagai pelatihan pembuatan film, seringkali terjadi perdebatan yang alot dalam menentukan ide. Mengapa demikian? Karena ide haruslah solid dan sebisa mungkin tidak berubah pada tahapan-tahapan berikutnya. Dan, untuk mencapai ide dengan kriteria di atas haruslah ditunjang dengan data-data yang lengkap dan cara berpikir yang logis serta memiliki nilai-nilai universal.

16
Mar
10

Alangkah indahnya membiasakan diri berbuat nyata

Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan … dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur … dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja …. dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit … dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian … dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian … dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan … Setelah membaca puisi itu … Pemuka agama tadi terharu dan berkata : “kasihan wanita itu” … lalu sibuk berdoa kembali, dan wanita itu tetap tidak memperoleh tempat berteduh. Sahabat, dalam memberi bantuan, kita sering lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis. Namun, sedikit sekali tindakan nyata yang kita lakukan. Berusahalah untuk membantu orang, mengasihi orang, bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan nyata. Orang-orang bijak mengatakan : Satu perbuatan nyata, sekecil apa pun, jauh lebih berarti dibandingkan seribu kata-kata indah. Satu perbuatan nyata sama dengan seribu kata-kata indah. Satu perbuatan nyata akan mengundang beberapa perbuatan nyata lainnya. Marilah setiap hari kita (kami dan Anda) membiasakan dengan minimal SATU perbuatan nyata (tentu saja perbuatan baik untuk membantu orang lain). Ini akan MENGUNDANG perbuatan-perbuatan baik lainnya. Alangkah indahnya membiasakan diri berbuat nyata (berbuat baik).

24
Feb
10

Hitler Meninggal di Indonesia?

Diktator Jerman, Adolf Hitler diyakini tewas bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945. Namun, fakta itu kini dipertanyakan. Seperti dikutip dari laman Daily Telegraph, Senin 28 September 2009, Program History Channel Documentary Amerika Serikat menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut. Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun. Penemuan ini, menguatkan kembali teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945. Dia diduga melarikan diri dan mati di usia tua. Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia. *** Jurnalis Argentina sekaligus pengarang buku ‘Bariloche Nazi’, Abel Basti meyakini Hitler tewas di Argentina pada 1960. Basti mengklaim Hitler melarikan diri dari Jerman menggunakan kapal selam. Bersama belahan jiwanya, Eva Braun, Hitler diyakini menghabiskan hari-hari terakhirnya di sebuah kota bernama Bariloche. Basti mendasarkan klaimnya atas keterangan beberapa saksi. Kemudian, seperti dikutip laman Salisburypost, 30 Agustus 1999, artikel surat kabar pada 17 Juli 1945, memberitakan Hitler dan Eva braun terlihat di Argentina. Seorang wartawan mengirim cerita dari Montevideo ke Chicago Times — Hitler dan Braun melarikan diri ke Argentina dengan kapal selam. Keduanya hidup di kompleks orang-orang Jerman di Patagonia. Sementara, klaim bahwa Hitler meninggal di Brazil didasarkan pengakuan anggota NAZI bahwa Hitler meninggal pada 1980 di Brazil. Brazil diketahui sebagai tempat pelarian para mantan pengikut Hitler. Sebuah makam NAZI bahkan ditemukan di pedalaman Hutan Amazon, lengkap dengan lambang NAZI di nisan yang berbentuk salib. Makam NAZI di pedalaman Amazon *** Sebuah artikel mengejutkan telah lama beredar di sejumlah mailing list dan laman jejaring sosial. Artikel itu berisi versi lain cerita kematian diktator Jerman, Adolf Hitler. Dikatakan Hitler meninggal di Indonesia. Cerita ini berawal dari sebuat artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo — dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar. Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut. Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi polemik. Dia mengatakan dokter tua asal Jerman yang dia temui dan ajak bicara adalah Hitler di masa tuanya Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal — Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul. Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya — yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun. Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan. Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler. Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua. “Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf.” Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, sebab kondisi fisik yang sama dia temukan pada diri Poch. Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan kiri Hitler selalu bergetar sejak pertempuran Stalingrad (1942 -1943) — yang merupakan pukulan dahsyat bagi tentara Jerman. Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi. “Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing,” kata Sosrohusodo, seperti dimuat laman Militariana. Sosro mengaku pernah memeriksa tangan kiri Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan gejala ini mulai terjadi, Poch lalu bertanya pada istrinya yang lalu menjawab, “ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali.” Goebbels yang disebut istri Poch diduga adalah Joseph Goebbe, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa kali memanggil suaminya ‘Dolf’, yang diduga kependekan dari Adolf Hitler. Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, dia memperoleh informasi dr Poch meninggal di Surabaya. Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel. Sementara istrinya yang asal Jerman pulang ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan wanita Sunda asal Bandung berinisial S. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis. Setelah menutup mulut, S akhirnya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro. termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch. Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno dalan bahasa Jerman Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan. “Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun,” kata Sosro. Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler — yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar. Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, “jangan bilang siapa-siapa.” Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di balik pengakuannya. “Saya hanya ingin menunjukan Hitler meninggal di Indonesia,” kata dia. Hingga saat ini apakah Hitler tewas di bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum bisa dipastikan. Kisah akhir hayat ‘sang Fuhrer’ terus jadi misteri.

10
Jul
09

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959), bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Teori ini akan berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan, interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial.

Herbert Blumer, salah satu arsitek utama dari interaksionisme simbolik menyatakan: Istilah ‘interaksi simbolik’ tentu saja menunjuk pada sifat khusus dan khas dari interaksi yang berlangsung antar manusia. Kekhususan itu terutama dalam fakta bahwa manusia menginterpretasikan atau ‘mendefinsikan’ tindakan satu sama lain dan tidak semata-mata bereaksi atas tindakan satu sama lain. Jadi, interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Gagasan Teori Interaksionisme Simbolik Istilah paham interaksi menjadi sebuah label untuk sebuah pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia.

Banyak ilmuwan yang telah menggunakan pendekatan tersebut dan memberikan kontribusi intelektualnya, di antaranya George Herbert Mead, John Dewey, W.I Thomas, Robert E.Park, William James, Charles Horton Cooley, Florian Znaniceki, James Mark Baldwin, Robert Redfield dan Louis Wirth. Teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the self) dan dunia luarnya. Di sini Cooley menyebutnya sebagai looking glass self. Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu.

Blumer mengutarakan tentang tiga prinsip utama interaksionisme simbolik, yaitu tentang pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Premis ini nantinya mengantarkan kepada konsep ‘diri’ seseorang dan sosialisasinya kepada ‘komunitas’ yang lebih besar, masyarakat. Blumer mengajukan premis pertama, bahwa human act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things. Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut. Once people define a situation as real, its very real in its consequences. Pemaknaan tentang apa yang nyata bagi kita pada hakikatnya berasal dari apa yang kita yakini sebagai kenyataan itu sendiri. Karena kita yakin bahwa hal tersebut nyata, maka kita mempercayainya sebagai kenyataan.

Premis kedua Blumer adalah meaning arises out of the social interaction that people have with each other. Pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang dipertukarkan di antara mereka. Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul ‘dari sananya’. Makna berasal dari hasil proses negosiasi melalui penggunaan bahasa (language)—dalam perspektif interaksionisme simbolik.

Premis ketiga Blumer adalah an individual’s interpretation of symbols is modified by his or her own thought process. Interaksionisme simbolik menggambarkan proses berpikir sebagai perbincangan dengan diri sendiri. Proses berpikir ini sendiri bersifat refleksif. Nah, masalahnya menurut Mead adalah sebelum manusia bisa berpikir, kita butuh bahasa. Kita perlu untuk dapat berkomunikasi secara simbolik. Bahasa pada dasarnya ibarat software yang dapat menggerakkan pikiran kita. Konsep diri menurut Mead sebenarnya kita melihat diri kita lebih kepada bagaimana orang lain melihat diri kita (imagining how we look to another person).

Kaum interaksionisme simbolik melihat gambaran mental ini sebagai the looking-glass self dan bahwa hal tersebut dikonstruksikan secara sosial. Dalam konsepsi interaksionisme simbolik dikatakan bahwa kita cenderung menafsirkan diri kita lebih kepada bagaimana orang-orang melihat atau menafsirkan diri kita. Kita cenderung untuk menunggu, untuk melihat bagaimana orang lain akan memaknai diri kita, bagaimana ekspektasi orang terhadap diri kita. Oleh karenanya konsep diri kita terutama kita bentuk sebagai upaya pemenuhan terhadap harapan atau tafsiran orang lain tersebut kepada diri kita. Kita acap kali mencoba memposisikan diri ke dalam orang lain, dan mencoba melihat bagaimanakah perspektif orang tersebut ketika memandang diri kita. Kita semacam meminjam kaca mata orang lain tersebut untuk dan dalam melihat diri kita.

04
Jun
09

Jurnalisme Damai, Apa Mungkin?

“Jurnalisme damai atau menyelesaikan persoalan yang saya ingin bangun di media ini pak,” dengan semngat berapi-api menjawab wawancara seorang pemilik salah satu media Islam. “Jangan sampai media ini mengangkat tulisan-tulisan yang menyulut konfrontasi. Media massa dalam pemberitaan hendaknya dalam lebih menyejukkan pikiran, bukannya membakar emosi audiens, apalagi lawan-lawan yang bersebrangan. Seperti pemberitaan non-Muslim di media ini, menurut saya hanya menyulut perpecahan yang lebih luas, tambah saya. Ya, itulah sekilas ringkasan jawaban saya dalam sebuah wawancara untuk menjadi reporter di sebuah media Islam yang cukup lama dan konon orang bilang cukup radikal. Tapi, nyatanya ide saya tersebut justru menjadi penyebab gagalnya saya masuk menjadi reporter di media tersebut. Padahal menurut informan seorang teman yang lebih dulu menjadi wartawan dimedia tersebut, nilai saya masuk 3 besar. Karena yang akan direkrut untuk masa percobaan adalah 3 orang. Atau mungkin juga karena bahasa inggris saya yang kurang bagus? Mungkin juga, tapi wallahua’lam. Hanya si pewawancara itu yang tau. Ide jurnalisme damai tidak sekedar guyonan atau asal ngomong, ketika saya sampaikan saat wawancara pada saat itu. ‘Peace Journalism’ rasanya menjadi langka di negeri ini. Saya melihat masih banyak media pers yang menyulut emosi audiens dalam pembuatan berita-beritanya. Padahal jurnalis harusnya bisa membuat berita yang menyejukkan. Apa memang tugas media membuat sensasi? Atau memang justru yang kontroversi itu yang menarik? Ah, memangnya media gosip. Ide jurnalisme damai ini ditolak mentah-mentah oleh seorang kawan yang bekerja di media. Menurutnya wartawan hanya menulis fakta yang ada, bukan tugas media menyelesaikan sebuah persoalan yang ada di negeri ini. Ya, mungkin juga benar apa yang dikatakan kawan saya ini. Tapi bukankah peran media juga harusnya memberi pendidikan, pencerahan dan informasi yang baik buat para audiensnya? Lalu apa salahnya dengan ide jurnalisme damai ini? Jika saja standar profesi jurnalistik dan etika pers benar-benar diaplikasikan, saya yakin akan tercipta sebuah jurnalisme yang damai. Celakanya lagi standar profesi jurnalisme seperti syarat-syarat untuk menjadi wartawan dan penerbit pers tidak ada dalam Undang-Undang Pers. Konsep-konsep jurnalisme accurate reporting (akurat dan teliti), objective reporting (tidak memihak), fair reporting (jujur dan tidak bias), balance reporting (pemberitaan yang berimbang dan proporsional), dan true reporting (benar) banyak diabaikan para wartawan. Pemberitaan yang vulgar dan sensasional justru menjadi kegemaran para wartawan dalam cara pemberitaan yang disebut crisis news, action news, spot news, dan hard news. Ditambah dengan kebiasaan buruk mengambil angel kejadian yang menegangkan, pemakaian gaya bahasa, cara memilih judul, leads dan cara menerapkan fungsi agenda setting (pilihan waktu dan tempat berita) yang mencemaskan khalayak (audience). Di dalam buku “Komunikasi Islam” yang ditulis oleh Andi Abdul Muis, dalam dokumen-dokumen sejarah pers barat yang memaparkan tipologi pers memang ada masalah keberpihakan dalam melaksanakan fungsi jurnalistiknya terutama sebagai saluran komunikasi politik. Ada yang disebut partisan press, ada party –directed press dan party-bound press. Disamping itu menurut A. Muis, pers barat juga mewariskan kepada para jurnalis di Negara-negara lain, tipe-tipe berita yang disebut berita kekerasan dan konflik (action news), berita kegemparan (crisis news), kejadian-kejadian panas (spot news) dan berita-berita yang menakutkan (hard news). Cara pemberitaan demikian memang sangat mempengaruhi jurnalis di dimedia-media pers Indonesia. Kesubjektifan media massa atau jurnalis pada sebuah kelompok, sebenarnya mengganggu sebuah jurnalisme damai yang dicita-citakan dan justru menciptakan ‘war jounalism’ yang semu. Wallahua’lam

Penulis Edo Segara. Pegiat Institut Studi dan Analisa Propaganda (INSAP) Jogjakarta.

18
Mei
09

Pengertian Organisasi

Organisasi merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan perusahaan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen yang dilakukan seorang pimpinan dengan organisasi yang tercipta di perusahaan yang bersangkutan. Jadi keberhasilan perusahaan tergantung pada organisasi terutama struktur organisasi yang dianut.Menurut Boone dan Katz organisasi didefinisikan sebagai berikut: Organisasi adalah suatu proses tersusun yang orang-orangnya berinteraksi untuk mencapai tujuan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi mencakup 3 elemen pokok:
1. Interaksi manusia.
2. Kegiatan yang mengarah pada tujuan.
3. Struktur organisasi itu sendiri.
Kebutuhan perusahaan akan pentingnya peranan organisasi akan disesuaikan dengan seberapa besar anggota perusahaannya. Karena semakin sedikit anggota pemsahaan semakin sederhana fungsi-fungsi pengorganisasian yang dilakukan. Demikian juga kalau perusahaan yang mula-mula anggotanya sedikit kemudian berkembang sehingga jumlah anggota terus bertambah semakin banyak maka kebutuhan akan organisasi semakin besar. Misalnya: perusahaan yang memproduksi pakaian jadi, kalau mula-mula hanya mengkhususkan diri dibidang pakaian jadi wanita maka setelah berkembang dan melihat situasi pasar yang mengakibatkan perlunya perusahaan melakukan diversifikasi produk akan memerlukan tambahan karyawan tidak hanya pada bagian produksi saja tetapi juga bagian penjualan, pemasaran, pembukuan dan lain-lain. Jadi agar lebih jelas dan terarah kewajiban dan wewenang masing-masing karyawan perusahaan sesuai dengan tugas dan kemampuannya masing-masing.
Pola organisasi dibagi menjadi dua bagian yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Umumnya setiap organisasi formal biasanya mengandung kedua unsur pola tersebut di mana organisasi formalnya yang dijadikan pedoman tegas dalam dalam struktur organisasinya. Sedangkan organisasi informal akan dengan sendirinya muncul karena kebutuhan karyawan untuk bermasyarakat atau bersosialisasi dengan dan berhubungan dengan karyawan yang lain.




Kategori

Apa Kata Nurani????

Kehidupan...???? Saat manusia mencoba menjadi manusia

Coba Lihat Juga….

https://fauzan3486.wordpress.com http://videografer.ning.com http://idecerita.blogspot.com http://detik.com http://kompas.com http://filmpendek.org http://marioteguh.asia http://politikana.com
Desember 2016
S S R K J S M
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031