Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan … dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur … dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja …. dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit … dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian … dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian … dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan … Setelah membaca puisi itu … Pemuka agama tadi terharu dan berkata : “kasihan wanita itu” … lalu sibuk berdoa kembali, dan wanita itu tetap tidak memperoleh tempat berteduh. Sahabat, dalam memberi bantuan, kita sering lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis. Namun, sedikit sekali tindakan nyata yang kita lakukan. Berusahalah untuk membantu orang, mengasihi orang, bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan nyata. Orang-orang bijak mengatakan : Satu perbuatan nyata, sekecil apa pun, jauh lebih berarti dibandingkan seribu kata-kata indah. Satu perbuatan nyata sama dengan seribu kata-kata indah. Satu perbuatan nyata akan mengundang beberapa perbuatan nyata lainnya. Marilah setiap hari kita (kami dan Anda) membiasakan dengan minimal SATU perbuatan nyata (tentu saja perbuatan baik untuk membantu orang lain). Ini akan MENGUNDANG perbuatan-perbuatan baik lainnya. Alangkah indahnya membiasakan diri berbuat nyata (berbuat baik).
Arsip untuk Kategori 'Karya Sastra'
21
Apr
09
Bioskop Masa Kini
Oleh : Aulya Elyasa
Memang aneh, sungguh aneh.
Jaman dulu orang takut tempat gelap
Sekarang mencari yang gelap-gelap
Eits…tapi bukan untuk terlelap
Memang aneh, jaman sekarang
Dulu ke bioskop nonton film
Sekarang malah bikin film
(tanpa campers, sutradara, apalagi produser dan kreatif)
Memang bioskop bisa untuk asik.
Tapi biasanya di pojokan biar ga terusik
Sekarang di tengah pun jadi
Sudah putus urat malu dan harga diri.
Yang tambah hebatnya.
Anak sma sudah jago meraba
Malahan minta di bagian dada
“Lebih cepet dong! Biar terasa” katanya membara
Tak peduli ada orang di samping
Yang penting ga sampe bunting
Mau melarang tapi terangsang
Mau marah, mereka sudah mendesah
Ya sudah…pasrah!
(tapi mereka kayanya basah!)